Hayek13′s Blog

February 10, 2009

Batas

Filed under: Uncategorized — Satriya Fuji Muliya @ 5:40 am

Ada ilalang menari-nari lincah di puncak kebebasannya. Ada kuda berlari liar di alam kebebasannya. Ada burung-burung bernyanyi merayu, menghasilkan perpaduan suara merdu. Ada barisan ombak pantai yang tehempas bebas. Ada dirimu yang selalu tampak anggun di mataku. Ada aku yang memeluk erat kameraku, meneropong kebebasan dari balik lensaku dan menikmati keindahan dengan jiwaku.

Banyak keindahan yang ditawarkan semesta kepada kita. Ada makhluk penghuni semesta yang indah dengan berbagai fungsi dan keberadaannya. Tumbuhan yang menghijau damai. Hewan yang berterbangan dan berlari liar tunggang langgang. Dan manusia yang berkuasa atas alam. Atau semesta itu sendiri yang bernyanyi riang dalam keharmonisannya. Semua kehidupan menjadi satu, di bumi yang cuma satu dan dengan siklus waktu yang juga cuma satu. Saling menghidupi dan dihidupi antara satu dengan lainnya. Saling membutuhkan dan dibutuhkan diantaranya. Dan saling menjaga dan dijaga untuk eksistensinya.

Tiada indahnya semesta raya yang tertangkap pandangan tanpa diabadikan dalam sebuah gambar. Keindahan semesta dalam gambar itu masih bisa berkamuflase dalam keindahan semesta yang sesungguhnya. Tuhan selalu menciptakan semestaNya dengan indah. Begitu juga manusia yang mewujudkan semestanya dengan indah dalam sebuah gambar. Meski hanya termanifestasikan dalam sebuah bingkai atau pigora ataupun masih dalam lensa kamera, namun keindahan itu tidak pernah hilang dalam ukurannya. Sekecil apapun keindahan itu, akan tetap memiliki arti keindahan yang tak terbatas, tak pernah bisa dibatasi dan tak terbalas bagi jiwa yang menginginkannya.

Mampukah kita melihat batas keindahan?. Atau mampukah kita memberi batas pada keindahan?. Atau mungkin juga mampukah kita membalas keindahan?. Temukan semua jawaban pertanyaan itu pada jiwa-jiwa yang merindukan keindahan dan menginginkan kebebasan.

Keindahan mungkin juga relative, samasekali tidak absolute atau mutlak. Setiap orang bisa bebas mengintepretasikan keindahan mereka masing-masing dengan cara yang berbeda. Itulah keindahan, yang menjadi semakin indah dengan berbagai intepretasi berbeda akan dirinya. Indah bagiku belum tentu indah bagimu. Tapi indah bagimu sudah pasti indah juga bagiku. Keindahanmu adalah keindahanku. Hukum relativitas keindahan itu tidak berlaku pada diriku yang selalu menjunjung tinggi dirimu.

Ketika semua bertanya padaku tentang batas keindahan, maka aku menjawabnya dengan dirimu. Batas keindahan itu aku temukan pada dirimu. Dirimu yang lebih hangat dari mentari di pagi itu. Dirimu yang lebih indah dari pelangi yang muncul diantara rintik hujan siang itu. Dirimu yang lebih mempesona dari senja di langit sore itu. Dirimu yang lebih bercahaya dari gugusan bintang kejora yang menghiasi langit di malam itu. Itulah dirimu. Batas keindahanku.

Keberadaanmu telah membatasi keindahanku. Aku bukannya tidak mau berontak akan keterkekanganku oleh dirimu. Tapi aku memang sengaja membiarkan diri ini terpenjara oleh keindahanmu. Biarkan aku terpenjara dalam ruang kecil itu di penjara keindahanmu. Karena aku adalah jiwa yang merindukan keindahan.

Advertisement

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.