Hayek13′s Blog

February 13, 2009

Ich liebe Dir

Filed under: Puisi — Satriya Fuji Muliya @ 2:20 pm

ich sag’ dass ich dich liebe

ich sag’ dass ich Dir liebe

Grammatikalisch darf ich nicht dir liebe

im Gefühl darf dich liebe

welches ist wichtiger??

die Beide sind mir sehr wichtig

weil ich Dir liebe

trotz ich dir nicht lieben darf

werde ich dich immer lieb’

weil ich Dir liebe

February 10, 2009

Aku belajar dari dia

Filed under: Puisi — Satriya Fuji Muliya @ 6:33 am

Dingin malam itu tidak mampu membuatnya bersembunyi di balik selimut

dia terus berdiri tegak dan terus berjalan maju

derap langkahnya mengalahkan derasnya hujan yang turun malam itu

meski sesekali tersandung karena gelap yang menyelimuti

atau terpeleset karena tergelitik air

dia tidak terjatuh atau goyah sekalipun

Telapak kakinya tidak beralaskan sepatu ataupun sandal, melainkan sebuah harapan

matanya terfokus pada satu tujuan, satu tujuan dimana kakinya menuntunnya

dan tekadnya membuat dirinya menjadi semakin kuat

Dalam berbagai keadaan dia tidak pernah mengeluh

atau merasa sakit dalam ketertindasan yang tidak dia rasakan

aku melihatnya sebagai sosok yang tangguh

dan sosok yang berpendirian teguh

aku ingin merangkul pundaknya

dan berjalan bersamanya

seandainya dia tahu, aku ingin merasakan perjuangannya

berjuang dalam hidup yang selama ini menghidupi

atau mati dalam ketidaksempurnaan

karena aku…

ingin belajar dari dia.

Batas

Filed under: Uncategorized — Satriya Fuji Muliya @ 5:40 am

Ada ilalang menari-nari lincah di puncak kebebasannya. Ada kuda berlari liar di alam kebebasannya. Ada burung-burung bernyanyi merayu, menghasilkan perpaduan suara merdu. Ada barisan ombak pantai yang tehempas bebas. Ada dirimu yang selalu tampak anggun di mataku. Ada aku yang memeluk erat kameraku, meneropong kebebasan dari balik lensaku dan menikmati keindahan dengan jiwaku.

Banyak keindahan yang ditawarkan semesta kepada kita. Ada makhluk penghuni semesta yang indah dengan berbagai fungsi dan keberadaannya. Tumbuhan yang menghijau damai. Hewan yang berterbangan dan berlari liar tunggang langgang. Dan manusia yang berkuasa atas alam. Atau semesta itu sendiri yang bernyanyi riang dalam keharmonisannya. Semua kehidupan menjadi satu, di bumi yang cuma satu dan dengan siklus waktu yang juga cuma satu. Saling menghidupi dan dihidupi antara satu dengan lainnya. Saling membutuhkan dan dibutuhkan diantaranya. Dan saling menjaga dan dijaga untuk eksistensinya.

Tiada indahnya semesta raya yang tertangkap pandangan tanpa diabadikan dalam sebuah gambar. Keindahan semesta dalam gambar itu masih bisa berkamuflase dalam keindahan semesta yang sesungguhnya. Tuhan selalu menciptakan semestaNya dengan indah. Begitu juga manusia yang mewujudkan semestanya dengan indah dalam sebuah gambar. Meski hanya termanifestasikan dalam sebuah bingkai atau pigora ataupun masih dalam lensa kamera, namun keindahan itu tidak pernah hilang dalam ukurannya. Sekecil apapun keindahan itu, akan tetap memiliki arti keindahan yang tak terbatas, tak pernah bisa dibatasi dan tak terbalas bagi jiwa yang menginginkannya.

Mampukah kita melihat batas keindahan?. Atau mampukah kita memberi batas pada keindahan?. Atau mungkin juga mampukah kita membalas keindahan?. Temukan semua jawaban pertanyaan itu pada jiwa-jiwa yang merindukan keindahan dan menginginkan kebebasan.

Keindahan mungkin juga relative, samasekali tidak absolute atau mutlak. Setiap orang bisa bebas mengintepretasikan keindahan mereka masing-masing dengan cara yang berbeda. Itulah keindahan, yang menjadi semakin indah dengan berbagai intepretasi berbeda akan dirinya. Indah bagiku belum tentu indah bagimu. Tapi indah bagimu sudah pasti indah juga bagiku. Keindahanmu adalah keindahanku. Hukum relativitas keindahan itu tidak berlaku pada diriku yang selalu menjunjung tinggi dirimu.

Ketika semua bertanya padaku tentang batas keindahan, maka aku menjawabnya dengan dirimu. Batas keindahan itu aku temukan pada dirimu. Dirimu yang lebih hangat dari mentari di pagi itu. Dirimu yang lebih indah dari pelangi yang muncul diantara rintik hujan siang itu. Dirimu yang lebih mempesona dari senja di langit sore itu. Dirimu yang lebih bercahaya dari gugusan bintang kejora yang menghiasi langit di malam itu. Itulah dirimu. Batas keindahanku.

Keberadaanmu telah membatasi keindahanku. Aku bukannya tidak mau berontak akan keterkekanganku oleh dirimu. Tapi aku memang sengaja membiarkan diri ini terpenjara oleh keindahanmu. Biarkan aku terpenjara dalam ruang kecil itu di penjara keindahanmu. Karena aku adalah jiwa yang merindukan keindahan.

Dia bilang aku masih kecil

Filed under: Puisi — Satriya Fuji Muliya @ 5:37 am

Dengan bangga aku tunjukkan pada dia

seorang berharga yang pernah ada

ini pertama kalinya aku bilang pada dia tentangnya

Aku tidak perlu kata pembuka untuk memberitahu dia

secara tiba-tiba aku langsung menceritakan tentangnya

Dia tidak terkejut…

ataupun heran…

padaku yang tiba-tiba berbicara tentangnya

Hanya satu kalimat yang dia lontarkan

Kalimat yang membuatku mengevaluasi diriku

Memang benar,

Aku masih bergantung pada dia

Aku juga masih belum bisa melepaskan diri dari dia

Namun,

Ketika aku belajar untuk tidak bergantung pada dia

Dia selalu bertanya tentangku

dan ketika aku belajar untuk bisa lepas dari dia

Dia merasa kehilangan diriku

Aku menyadari akan posisiku sekarang,,

Aku tidak ingin bergantung pada dia

Aku juga ingin melepaskan diri dari dia

tapi aku tidak ingin meninggalkan dia

Kalimat itu telah membuatku sadar

kalau aku memang harus berubah

benar-benar berubah!!

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.