Terlalu lama aku menjelajah imajinasi kosongku
Tersesat dalam lamunan gelap yang tak kunjung membawaku kepada pencarianku
Meski telah kulangkahkan kakiku di setiap pasir waktuku
Namun tak kutemukan juga jembatan itu…
Jembatan harapan antara duniaku
yang menghubungkan denganMu
apa Kau tahu kalau aku telah terperosok dan terjatuh berkali-kali ketika menuju sesosok bayangan jembatan harapan yang ingin kuraih??
aku terjatuh dalam lembah tak berdasar yang tak satu makhluk pun pernah mengalami
aku yakin Kau tahu itu,
karena Kau Maha Tahu tapi kenapa Kau selalu menunggu??
aku terus terombang-ambing,
melayang,
dan kemudian menghilang dalam kelam
menuju dasar lembah yang hampa tak berdasar itu
seperti bulu tipis yang terus terhembus angin sehingga membuatnya terus melayang di udara dan tak pernah jatuh menyentuh bumi
aku bisa melihat, tapi gelap
aku bisa mendengar, tapi sunyi
aku bisa meraba, tapi hampa
dan aku seperti mati, tapi suri
Ketika menyadari bahwa diri ini telah mati
Aku semakin ingin mengutuk diri,
Aku juga ingin menyumpahi-Mu seandainya Engkau bukan sang Ilahi
Karena tak tergerak juga nurani ini
Membangkitkan diriku yang telah suri
Ketika aku mulai berani menentang-Mu dalam gelapku
Kau turunkan bagiku seberkas cahaya dari bidadari bersayap putih
yang suci, indah dan penuh pesona
serta istimewa
dengan kelembutan sayap putihnya
Bidadari itu membawaku terbang menjauhi lembah hampa tak berdasar itu
Perlahan-lahan ia membawaku kembali ke permukaan
Menemani dan menerangi jalanku
Untuk kembali menemukan jembatan harapan itu
Namun tidak dalam lamunan maupun imajinasi
Melainkan dalam hidup ini…
Für mein Lebenslicht, ich werde dich immer lieb’