Hayek13′s Blog

January 13, 2009

Benang Merah

Filed under: Puisi — Satriya Fuji Muliya @ 9:53 am

Semua berawal dari yang tiAda menjadi Ada,
sampe akhirnya harus kembali meniAda,
menuju ke tempat yang telah dijanjikan-Nya…
ketika waktunya telah tiba

lalu kemanakah kita setelah itu??
sebuah teka-teki yang hanya Dia tahu
dan kita hanya diizinkan-Nya menunggu

Proses menuju ketiAdaan menjadikan kita Ada
kita yang mengAda,
karena terikat oleh benang merah
Hingga semua menjadi indah…

kita yang kini telah terikat benang merah akan mulai bertanya,
esok, lusa dan mungkin seterusnya
akankah kita selalu bersama??

semua memang terasa indah ketika bersama
dan semoga keindahan itu tidak pernah sirna
meski kita tidak pernah sempurna!!

Mein Lebenslicht

Filed under: Puisi — Satriya Fuji Muliya @ 8:39 am

Terlalu lama aku menjelajah imajinasi kosongku

Tersesat dalam lamunan gelap yang tak kunjung membawaku kepada pencarianku

Meski telah kulangkahkan kakiku di setiap pasir waktuku

Namun tak kutemukan juga jembatan itu…

Jembatan harapan antara duniaku

yang menghubungkan denganMu

apa Kau tahu kalau aku telah terperosok dan terjatuh berkali-kali ketika menuju sesosok bayangan jembatan harapan yang ingin kuraih??

aku terjatuh dalam lembah tak berdasar yang tak satu makhluk pun pernah mengalami

aku yakin Kau tahu itu,

karena Kau Maha Tahu tapi kenapa Kau selalu menunggu??[1]

aku terus terombang-ambing,

melayang,

dan kemudian menghilang dalam kelam

menuju dasar lembah yang hampa tak berdasar itu

seperti bulu tipis yang terus terhembus angin sehingga membuatnya terus melayang di udara dan tak pernah jatuh menyentuh bumi

aku bisa melihat, tapi gelap

aku bisa mendengar, tapi sunyi

aku bisa meraba, tapi hampa

dan aku seperti mati, tapi suri

Ketika menyadari bahwa diri ini telah mati

Aku semakin ingin mengutuk diri,

Aku juga ingin menyumpahi-Mu seandainya Engkau bukan sang Ilahi

Karena tak tergerak juga nurani ini

Membangkitkan diriku yang telah suri

Ketika aku mulai berani menentang-Mu dalam gelapku

Kau turunkan bagiku seberkas cahaya dari bidadari bersayap putih

yang suci, indah dan penuh pesona

serta istimewa

dengan kelembutan sayap putihnya

Bidadari itu membawaku terbang menjauhi lembah hampa tak berdasar itu

Perlahan-lahan ia membawaku kembali ke permukaan

Menemani dan menerangi jalanku

Untuk kembali menemukan jembatan harapan itu

Namun tidak dalam lamunan maupun imajinasi

Melainkan dalam hidup ini…

Für mein Lebenslicht, ich werde dich immer lieb’



[1] Dari cerpen ”Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu” karya Leo Tolstoy.

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.